Manusia Sebagai Makhluk Budaya

A. Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Budaya

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi dan paling beradab dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya. Keberadaan manusia tersebut apabila dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya, yaitu benda mati, tumbuh-tumbuhan dan juga binatang. Benda mati tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali ada dorongan atau tindakan dari ciptaan Tuhan lainnya sebagai makhluk hidup terhadap benda mati itu. Sehingga benda mati ini seringkali dijadikan alat untuk membantu atau menopang kehidupan manusia.

Sebagaimana makhluk hidup, tumbuh-tumbuhan juga tumbuh dan berkembang, namun ia tidak dapat berpindah, mempunyai emosi, atau berinteraksi langsung dengan pihak lain yang memberikan suatu aksi atau tindakan pada dirinya. Misalnya tumbuh-tumbuhan tidak dapat: berjalan, berlari, marah ketika ditebang, tertawa ketika disiram atau diberi pupuk, merespon ketika diajak berinteraksi atau berkomunikasi.

Aspek yang terkait dengan hakekat manusia sebagai makhluk budaya antara lain adalah unik dan universal. Secara umum, siapapun dan dimanapun manusia berada ia adalah makhluk budaya yang mempunyai akal pikiran. Sehingga dalam lingkup yang lebih luas sebagai bagian dari kumpulan/kelompok manusia atau masyarakat akan mempunyai kebudayaan yang beragam karena mereka berpikir atau mengalami proses belajar dalam berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebutuhannya masing-masing. Sedangkan dalam konteks individual, manusia adalah makhluk budaya yang unik. Unik karena antara makhluk hidup yang satu dan lainnya berbeda, dalam berperilaku, menciptakan dan mengekspresikan simbol-simbol. Oleh karena itu manusia juga dikatakan sebagai animal simbolikum yang mempunyai dorongan untuk mencipta simbol-simbol tersebut.

Dengan demikian sebagai animal simbolikum manusia adalah unik karena tiap manusia mempunyai kebutuhan dan kemampuan menciptakan atau mengekspresikan segala sesuatu dengan lambang atau simbol-simbol itu secara berbeda-beda. Sedangkan sebagai makhluk budaya, manusia adalah universal karena setiap manusia dianugrahi Tuhan akal yang dapat berkembang terus melalui proses belajar kebudayaan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Secara universal, perilaku manusia sebagai makhluk budaya merupakan gabungan dari adanya unsur fisik/raga dan mental/kepribadiannya. Sehingga yang berkembang dalam diri manusia adalah tidak hanya raganya namun juga ia berkembang secara emosional dan intelektual.

B. Etika dan Estetika Berbudaya

Etika manusia dalam berbudaya Etika berasal dr kata Yunani,yaitu Ethos,secara etimologis etika adalah ajaran tentang baik burukEtika sama artinya dengan moral (mores dalam bahasa latin) yang berbicara tentang peredikat nilai susila,atau tidak susila,baik dan buruk. Bertens menyebutkan ada tiga jenis makna etika yaitu :

  1. Etika dalam nilai-nilai atau norma untuk pegangan seseorang atau kelompok orang dalam mengatur tingkah laku.

  2. Etika dalam kumpulan asas atau moral (dalam arti lain kode etik).

  3. Etika dalam arti ilmu atau ajaran tentang baik dan buruk artinya daalam filsafat moral.

Estetika Manusia dalam Berbudaya Estetika dapat diartikan lain sebagai teori tentang keindahan. Keindahan dapat diartikan beberapa hal yaitu :

  1. Secara luas yaitu mengandung ide yang baik yang meliputi watak indah, hukum yang indah, ilmu yang indah, dan lain sebagainya.

  2. Secara sempit yaitu indahn yang terbatas pada lingkup persepsi penglihatan (bentuk dan warna).

  3. Secara estetik murni yaitu menyangkut pengalaman yang berhubungan dengan penglihatan, pendengaran, dan etika.

C. Problematika Kebudayaan

Bahwa dalam rangka pemenuhan hidupnya manusia akan berinteraksi dengan sesama masyarakat dan dengan masyarakat lain yang terjadi antarpersekutuan hidup manusia sepanjang hidup mansuia. Berkaitan dengan hal tersebut kita mengenal adanya tentang kebudayaan yaitu :

  1. Pewaris Kebudayaan yaitu proses pemindahan, penerusan, pemilikan dan pemakaian dari generasi ke generasi secara kesenambungan.

  2. Perubahan Kebudayaan yaitu perubahan yang terjadi karena ketidaksesuaian diantar unsur-unsur budaya.

  3. Penyebaran Kebudayaan adalah proses menyebarnya unsur-unsur kebudayaan dari suatu kelompok ke kelompok yang lain atau dari masyarakat ke masyarakat yang lain.

Menurut seorang sejarawan Arnold.J.Toynbee ada 3 aspek penyebaran budaya yaitu :

  1. Kekuatan untuk menembus suatu budaya berbanding terbalik dengan nilainya. Contohnya Religi adalah lapis dalam dari budaya.

  2. Jika satu unsur budaya masuk, maka akan menarik unsur budaya lainnya.

  3. Unsur budaya ditanah asalnya tidak berbahaya, bisa menjadi berbahaya bagi mayarakat yang didatanginya.

D. Manusia dan Kebudayaan

Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuia dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana yang dapat kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan kemasyarakatan.pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia, setelah peraturan itu jadi maka manusia yang membuatnya harus patuh kepada peraturan yang dibuatnya sendiri itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang tercakup dalam satu kebudayaan tidak akan jauh menyimpang dari kemauan manusia yang membuatnya.

Disamping itu manusia juga memiliki akal, intelegensia, intuisi, perasaan, emosi, kemauan, fantasi dan perilaku.Dengan semua kemampuan yang dimiliki oleh manusia maka manusia bisa menciptakan kebudayaan. Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang menciptakannya dan  manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya. Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendukungnya.

SUMBER :
http://junaidiakbar.blogspot.com/2012/06/manusia-sebagai-makhluk-berbudaya.html
http://rizcalolipop.blogspot.com/2012/05/manusia-sebagai-manusia-berbudaya.html
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/manusia-dan-kebudayaan-11/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: